Cari Blog Ini

Senin, 18 Maret 2013

psikologis ibu nifas



Setelah melahirkan ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Ia mengalami stimulasi kegembiraan yang luar biasa, menjalani proses eksplorasi dan asimilasi terhadap bayinya, berada dibawah tekanan untuk dapat pembelajaran yang diperlukan tentang apa yang harus diketahuinya dan perawatan untuk bayinya serta memiliki rasa tanggung jawab yang luar biasa untuk menjadi seorang ibu.
Tidak mengherankan bila ibu mengalami sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa kerepotan. Masa ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
Reva Rubin membagi periode ini menjadi 3 bagian, antara lain :
1.      Periode Taking In
a.      Periode ini 1-2 hari sesudah melahirkan. Ibu baru pada umumnya pasif dan tergantung, perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan tubuhnya.
b.      Ia mungkin akan mengulang-ulang menceritakan pengalamannya waktu melahirkan
c.       Tidur tanpa gangguan sangat penting untuk mengurang gangguan kesehatan akibat kurang istirahat
d.      Peningkatan nutrisi dibuttuhkan untuk mempercepat pemulihan dan penyembuhan luka, serta persiapan proses laktasi aktif
e.      Dalam memberikan asuhan Bidan harus dapat memfasilitasi kebutuhan psikologis ibu. Pada tahap ini, bidan dapat menjadi pendengar yang baik ketika ibu menceritakan pengalamannya. Berikan juga dukungan mental atau apresiasi atas hasil perjuangan ibu sehingga dapat berhasil melahirkan anaknya. Bidan harus dapat menciptakan suasana yang nyaman bagi ibu sehingga ibu dapat dengan leluasa dan terbuka mengemukakan permasalahan yang dihadapi pada Bidan. Dalam hal ini, sering terjadi kesalahan dalam pelaksanaan perawatan yang dilakukan oleh pasien terhadap dirinya dan bayinya hanya karena kurangnya jalina komunikasi yang baik antara pasien dan Bidan.
2.      Periode Taking Hold
a.      Periode ini berlangsung pada hari ke 2-4 postpartum
b.      Ibu menjadi perhatian pada kemampuannya menjadi orang tua yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayi
c.       Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya,BAB,BAK, serta kekuatan dan ketahanan tubuhnya
d.      Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan perawatan bayi, misalnya menggendong, memandikan,memasang popok, dan sebagainya
e.      Pada masa ini, ibu biasanya agak sensitive dan merasa tidaak mahir dalam melakukan hal-hal tersebut
f.        Pada tahap ini Bidan harus tanggap terhadap kemungkinan perubahan yang terjadi
g.      Tahap ini merupakan waktu yang tepat bagi bidan untuk memberikan bimbingan cara perawatan bayi,namun harus selalu diperhaitkan teknik bimbingannya, jangan sampai menyinggung perasaan atau membuat perasaan ibu tidak nyaman. Hindari kata “jangan begitu” atau “kalau seperti itu salah” pada ibu karena hal itu akan menyakiti perasaan ibu dan ibu akan putus asa untuk mengikuti bimbingan yang bidan berikan.
3.      Periode Letting Go
a.      Periode ini biasanya terjadi setelah ibu pulang kerumah. Periode inipun sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga
b.      Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi dan ia harus beradaptasi dengan segala kebuthan  bayi yang sangat tergantung padanya. Hal ini menyebabkan berkurangnya hak ibu, kebebasan, dan hubungan social.
c.       Depresi postpartum umumnya terjadi pada periode ini.
Faktor-faktor memengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada saat postpartum, antara lain:
1.      Respon dan dukungan keluarga serta teman
Bagi ibu postpartum, apalagi bagi ibu yang baru pertama kali melahrkan akan sangat membutuhkan dukunga orang-orang terdekatnya karena ia belum sepenuhnya berada pada kondisi stabil, baik fisik maupun psikologisnya. Ia masih sangat asing dengan perubahan peran barunya yang begitu fantastis terjadi dalam waktu yang begitu cepat, yaitu peran sebagai seorang ibu
Dengan respon positif dari lingkungan akan mempercepat proses adaptasi peran ini, sehingga akan memudahkan bagi bidan untuk memberikan asuhan yang sehat.
2.      Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirasi
Hal yang dialami oleh ibu ketika melahirkan akan sangat mewarnai alam perasaanya terhadap perannya sebagai seorang ibu. Ia akhirnya menjadi tahu bahwa begitu beratnya ia harus berjuang untuk melahirkan bayinya dan hal tersebut akan memperkaya pengalaman hidupnya. Banyak kasus terjadi setelah seorang ibu melahirkan anaknya yang pertama, ia akanbertekad untuk lebih meningkatkan kualitas hubungannya dengan ibunya.
3.      Pengalaman melahirkan anak yang lalu
Walaupun kali ini adalah bukan lagi pengalamannya yang pertama melahirkan bayinya, namun kebutuhan untuk mendapatkandukungan positif dari lingkungannya tidak berbeda dengan ibu yang baru melahirkan anak pertama. Hanya perbedaannya adalah teknik penyampaian dukungan yang diberikan lebih kepada support dan apresiasi dan keberhasilannya dalam melewati saat-saat sulit pada persalinannya yang lalu.
4.      Perubahan  budaya
Adanya adat istiadat yang dianut oleh lingkungan dan keluarga sedikit banyak akan memeranguhi keberhasilan ibu dalam melewati saat transisi ini. apalagi jka ada hal yang tidak sinkron adanya arahan dari tenaga kesehatan dengan budaya yang dianut. Dalam hal ini, bidan harus bijaksana dalam menyikapi,namun tidak mengurangi kualitas asuhan yang harus diberikan. Keterlibatan keluarga dari awal dalam menentukkan asuhan dan perawatan yang harus diberikan pada ibu dan bayi akan memudahkan bidan dalam pemberian asuhan.
A.      POST PARTUM BLUES
Fenomena pasca partum awal atau baby blues merupakan sekuel umum kelahiran bayi, biasanya terjadi pada 70% wanita. Penyebabnya ada beberapa hal, antara lain lingkungan tempat melahirkan yang kurang mendukung, perubahan hormon yang cepat, dan keraguan terhadap peran yang baru. Pada dasarnya, tidak satu pun dari ketiga hal tersebut termasuk penyebab yang konsisten. Factor penyebab biasanya merupakan kombinasi dari berbagai factor, termasuk adanya gangguan tidur yang tidak dapat dihindari oleh ibu selama masa-masa awal menjadi seorang ibu.
Post partum blues biasanya dimulai pada beberapa hari setelah kelahiran dan berakhir setelah 10-14 hari. Karakteristik post partum blues meliputi menangis, merasa letih karena melahirkan, gelisah, perubahan alam perasaan, menarik diri, serta reaksi negative terhadap bayi dan keluarga. Karena pengalaman melahirkan digambarkan sebagai pengalaman “puncak”, ibu baru mungkin merasa perawatan dirinya tidak kuat atau ia tidak mendapatkan perawatan yang tepat, jika bayangan melahirkan tidak sesuai dengan apa yang ia alami. Ia mungkin juga merasa diabaikan jika perhatian keluarganya tiba-tiba berfokus pada bayi yang baru saja dilahirkan.
Kunci untuk mendukung wanita dalam melalui periode ini adalah berikan perhatian dan dukungan yang baik baginya, serta yakinkan padanya bahwa ia adalah orang yang berarti bagi keluarga dan suami. hal yang terpenting berikan kesempatan untuk beristirahat yang cukup. Selain itu, dukungan positif atas keberhasilannya menjadi orang tua dari bayi yang baru lahir dapat membantu memulihkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya.
B.      KESEDIHAN DAN DUKA CITA
Dalam bahasan kali ini, digunakan istilah “berduka”, yang diartikan sebagai respon psikologis terhadap kehilangan. Proses berduka sangat bervariasi, tergantung dari apa yang hilang, serta persepsi dan keterlibatan individu terhadap apa pun yang hilang. “Kehilangan” dapat memiliki makna, mulai dari pembatalan kegiatan (piknik, perjalanan, pesta) sampai kematian orang yang dicintai. Seberapa berat kehilangan tergantung dari persepsi individu yang menderita kehilangan. Derajat kehilangan pada individu direfleksikan dalam respon terhadap kehilangan. Contohnya, kematian dapat menimbulkan respon berduka yang ringan sampai berat, bergantung pada hubungan dan keterlibatan individu dengan orang yang meninggal.
Kehilangan maternitas termasuk hal yang dialami oleh wanita yang mengalami infertilitas, yang mendapatkan bayinya hidup tapi kemudian kehilangan harapan (prematuritas atau kecacatan kongenital) dan kehilangan yang dibahas sebagai penyebab post partum blues (kehilangan keintiman dengan bayinya dan hilang perhatian). Kehilangan lain yang penting, tapi sering dilupakan adalah perubahan hubungan eksklusif antara suami dan istri menjadi kelompok tiga orang, ayah-ibu-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar