Cari Blog Ini

Senin, 18 Maret 2013

melahirkan asik dengan musik



Musik adalah seni mengatur dan menghasilkan suara dan kesunyian dalam waktu tertentu. Unsur musik, beberapa diantaranya, adalah melodi, harmoni, irama,timbre dan struktur musik. Melodi adalah susunan nada dalam satu warna. Harmoni adalah sejumlah nada yang yang dimainkan secara bersama. Irama adalah periode pengulangan pola suara. Timbre atau warna suara adalah kualitas suara yang dihasilkan oleh alat musik. Struktur atau bentuk musik adalah pola yang membedakan setiap bagian musik (Stereich dan Herrena, 2004).

Tubuh manusia merupakan sumber suara dan organ tubuh manusia dapat dianalogikan sebagai seperangkat alat musik. Fenomena musikdalam tubuh manusia sudah ditemukan sejak ovum dibuahi oleh sperma membentuk manusia baru. Sebagai proses yang ada dalam kandungan terjadi dengan beberapa gerakan dinamis, memiliki vibrasi, dan memiliki suara tersendiri. Suara yang dihasilkan oleh dinding rahim, denyut jantung, aliran darah, bisikan suara ibu, suara napas, dan gerakan otot dapat dikelompokkan sebagai sebuah kesempurnaan suara. Jika setiap organ tubuh berfungsi dengan baik, maka akan dihasilkan musik yang indah (Visnu, 2008).

Efek musik terhadap tubuh dipengaruhi oleh kebebasan irama dan intensitas nada musikal yang dimainkan. Nada tinggi terbukti menghasilkan efek yang lebih besar sindingkan dengan nada rendah (Visnu, 2008). Musik dipercaya mampu melakukan penyelarasan terhadap tubuh melalui irama yang selaras dengan vibrasi tubuh (Moreaux, 2009). Musik yang disunakan untuk teraoi sebainya memiliki tempo 60 – 80, sesuai dengan denyut jantung manusia (Bancroft, 1999). Pada seorang yang mengalami kecemasan, ketika denyut jantungnya meningkat kemudian diperdengarkan musik dengan irama lambat, denyut jantungnya akan melambat selaras dengan irama musik (Moreaux, 2009).

Menurut The National association for Music Therapy, terapi musik merupakan suatu upaya penggunaan musik secara teuraprutik dalam rangka memerbaiki, memelihara,  dan meningkatkan status kesehatan fisikdan mental (Prayiwi, 2009). Terapi musik dimaksudkan untuk menyelaraskan kembali kinerja organ tubuh yang sedang terganggu agar dapat berfungsi normal kembali (Visnu, 2008). Menurut djohan, terapi musik bermanfaat untuk memberikan rasa nyama, menurunkan stres dan kecemasan pasien melalui berbagai kegiatan seperti menyanyi, bermain musik, mendengarkan musik, menyaksikan vidio musik, menulis lagu atau aransemen musik, dan berdiskusi tentang musik (Pratiwi, 2009).
Musik telah diteliti berpengaruh terhadap kecemasan. Ada beberapa alasan musik dapat memengaruhi kecemasan pada pasien. Pertama, musik dapoat mengalihkan perhatian. Kedua, musik dapat memberi respon relaksasi yang meliputi keteraturan napas sehinggadapat mengurangi kecemasan. Ketiga, musik yang disengar melalui headphone dapat melindungi pasien dari suara yang tidak menyenangkan saat pembedahan sehingga dapat mengurangi kecemasan pasien yang disebabkan oleh faktor lingkungan (Mok dan Wong, 2003).

Dalam keadaan normal, manusia bernapas 25 – 35 kali permenit. Laju pernapasan yang lebih dalam atau labih lambat dapat menimbulkan ketegangan. Dengan mendengarkan music yang memiliki tempo lambat, manusia mampu memerdalam dan memerlambat pernapasan, sehingga memungkinkan terjadinya perasaan yang lebih tenang (Campbell, 2002).

Music dapat mengurangi ketegangan otot dan memerbaiki gerak dan koordinasi tubuh, saraf pendengaran menghubungkan teling dalam dengan semua otot dalam tubuh sehingga ketegangan otot dipengaruhi oleh bunyi dan getaran (Campbell, 2002).

Bunyi sebagai bagian dari music memiliki sifat dapat dipantulkan, diteruskan, dan diserap, oleh benda. Jika gelombang bunyi mengenai tubuh manusia, maka sebagian gelombang akan dipantulkan, sebagian akan diteruskan atau ditransmisi ke dalam tubuh, dan sebagian akan diserap oleh jaringan tubuh (Gabriel, 1996). Sifat gelombang bunyi merupakan dasar prmanfaatan terapi musik di bidan medis. Perjalanan music dalam tubuh dapat dimulai dari organ pendengaran maupun tanpa organ pendengaran, sehingga orang tulipun dapt merasakan efek musik melalui gelombang yang diterima langsung pada bagian otaknya (Neimark,2004).

Rangsang rasa takut dapat diterima secara visual dan melalui pendengaran. Pada lobus osipitalis dan lobus temporalis, impuls sensoris menimbulkan persepsi. Persepsi tersebut diolah menjadi pola pengertian pada lobus temporalis bagian bawah dan juga melibatkan lobus parietalis. Jika pengertian takut sudah dihasilkan, maka terjadi aktivitas pad sistem saraf simpatik sebagai salah satu bagian dari susunan saraf otonom yang bekerja dalam keadaan darurat atau stres (Guyton dan Hall, 1997).
Music yang digemari pasien lebih dapat mengurangi kecemasan dibandingkan dengan music yang tidak disukai oleh pasien (Gifford, 1996). Menurut Abraham (2001), music yang digunakan tidak harus jenis music yang disukai pasien, yang lebih penting music yang dipilih berdasarkan pengaruhnya terhadap kondisi tubuh pasien (Lubis, 2008).

Para ahli anestesiologi melaporkan bahwa kadar hormone epinefrin dan norepinefrin dalam darah menurun secara signifikan pada orang yang mendengarkan music yang santai (Campbell, 2002). Menurunnya sekresi epinefrin akan mengurangi sekresi adrenalin, sehingga dapat menurunkan tekanan daran dan denyut nadi (Atkinson dkk., 1987). Music dapat menurunkan sekresi hormone kortisol, suatu hormone yang berhubungan dengan peningkatan stress (Takashi, dkk., 2005). Selain itu, music dapat meningkatkan kekebalan tubuh dengan meningkatkan sekresi endorfindan kadar IgA dalam saliva (Campbell, 2002; Neimark, 2004). Sekresi endorphin menimbulkan sensasi menyenangkan dan memberikan rasa nyaman (Atkinson dkk., 1987).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar