Musik
adalah seni mengatur dan menghasilkan suara dan kesunyian dalam waktu tertentu.
Unsur musik, beberapa diantaranya, adalah melodi, harmoni, irama,timbre dan
struktur musik. Melodi adalah susunan nada dalam satu warna. Harmoni adalah
sejumlah nada yang yang dimainkan secara bersama. Irama adalah periode
pengulangan pola suara. Timbre atau warna suara adalah kualitas suara yang
dihasilkan oleh alat musik. Struktur atau bentuk musik adalah pola yang
membedakan setiap bagian musik (Stereich dan Herrena, 2004).
Tubuh
manusia merupakan sumber suara dan organ tubuh manusia dapat dianalogikan
sebagai seperangkat alat musik. Fenomena musikdalam tubuh manusia sudah
ditemukan sejak ovum dibuahi oleh sperma membentuk manusia baru. Sebagai proses
yang ada dalam kandungan terjadi dengan beberapa gerakan dinamis, memiliki
vibrasi, dan memiliki suara tersendiri. Suara yang dihasilkan oleh dinding
rahim, denyut jantung, aliran darah, bisikan suara ibu, suara napas, dan
gerakan otot dapat dikelompokkan sebagai sebuah kesempurnaan suara. Jika setiap
organ tubuh berfungsi dengan baik, maka akan dihasilkan musik yang indah
(Visnu, 2008).
Efek
musik terhadap tubuh dipengaruhi oleh kebebasan irama dan intensitas nada
musikal yang dimainkan. Nada tinggi terbukti menghasilkan efek yang lebih besar
sindingkan dengan nada rendah (Visnu, 2008). Musik dipercaya mampu melakukan
penyelarasan terhadap tubuh melalui irama yang selaras dengan vibrasi tubuh
(Moreaux, 2009). Musik yang disunakan untuk teraoi sebainya memiliki tempo 60 –
80, sesuai dengan denyut jantung manusia (Bancroft, 1999). Pada seorang yang
mengalami kecemasan, ketika denyut jantungnya meningkat kemudian diperdengarkan
musik dengan irama lambat, denyut jantungnya akan melambat selaras dengan irama
musik (Moreaux, 2009).
Menurut
The National association for Music Therapy, terapi musik merupakan suatu upaya
penggunaan musik secara teuraprutik dalam rangka memerbaiki, memelihara, dan meningkatkan status kesehatan fisikdan
mental (Prayiwi, 2009). Terapi musik dimaksudkan untuk menyelaraskan kembali
kinerja organ tubuh yang sedang terganggu agar dapat berfungsi normal kembali
(Visnu, 2008). Menurut djohan, terapi musik bermanfaat untuk memberikan rasa
nyama, menurunkan stres dan kecemasan pasien melalui berbagai kegiatan seperti
menyanyi, bermain musik, mendengarkan musik, menyaksikan vidio musik, menulis
lagu atau aransemen musik, dan berdiskusi tentang musik (Pratiwi, 2009).
Musik
telah diteliti berpengaruh terhadap kecemasan. Ada beberapa alasan musik dapat
memengaruhi kecemasan pada pasien. Pertama, musik dapoat mengalihkan perhatian.
Kedua, musik dapat memberi respon relaksasi yang meliputi keteraturan napas
sehinggadapat mengurangi kecemasan. Ketiga, musik yang disengar melalui headphone dapat melindungi pasien dari
suara yang tidak menyenangkan saat pembedahan sehingga dapat mengurangi
kecemasan pasien yang disebabkan oleh faktor lingkungan (Mok dan Wong, 2003).
Dalam
keadaan normal, manusia bernapas 25 – 35 kali permenit. Laju pernapasan yang
lebih dalam atau labih lambat dapat menimbulkan ketegangan. Dengan mendengarkan
music yang memiliki tempo lambat, manusia mampu memerdalam dan memerlambat
pernapasan, sehingga memungkinkan terjadinya perasaan yang lebih tenang
(Campbell, 2002).
Music
dapat mengurangi ketegangan otot dan memerbaiki gerak dan koordinasi tubuh,
saraf pendengaran menghubungkan teling dalam dengan semua otot dalam tubuh
sehingga ketegangan otot dipengaruhi oleh bunyi dan getaran (Campbell, 2002).
Bunyi
sebagai bagian dari music memiliki sifat dapat dipantulkan, diteruskan, dan
diserap, oleh benda. Jika gelombang bunyi mengenai tubuh manusia, maka sebagian
gelombang akan dipantulkan, sebagian akan diteruskan atau ditransmisi ke dalam
tubuh, dan sebagian akan diserap oleh jaringan tubuh (Gabriel, 1996). Sifat
gelombang bunyi merupakan dasar prmanfaatan terapi musik di bidan medis.
Perjalanan music dalam tubuh dapat dimulai dari organ pendengaran maupun tanpa
organ pendengaran, sehingga orang tulipun dapt merasakan efek musik melalui
gelombang yang diterima langsung pada bagian otaknya (Neimark,2004).
Rangsang
rasa takut dapat diterima secara visual dan melalui pendengaran. Pada lobus
osipitalis dan lobus temporalis, impuls sensoris menimbulkan persepsi. Persepsi
tersebut diolah menjadi pola pengertian pada lobus temporalis bagian bawah dan
juga melibatkan lobus parietalis. Jika pengertian takut sudah dihasilkan, maka
terjadi aktivitas pad sistem saraf simpatik sebagai salah satu bagian dari
susunan saraf otonom yang bekerja dalam keadaan darurat atau stres (Guyton dan
Hall, 1997).
Music
yang digemari pasien lebih dapat mengurangi kecemasan dibandingkan dengan music
yang tidak disukai oleh pasien (Gifford, 1996). Menurut Abraham (2001), music
yang digunakan tidak harus jenis music yang disukai pasien, yang lebih penting
music yang dipilih berdasarkan pengaruhnya terhadap kondisi tubuh pasien
(Lubis, 2008).
Para
ahli anestesiologi melaporkan bahwa kadar hormone epinefrin dan norepinefrin
dalam darah menurun secara signifikan pada orang yang mendengarkan music yang
santai (Campbell, 2002). Menurunnya sekresi epinefrin akan mengurangi sekresi
adrenalin, sehingga dapat menurunkan tekanan daran dan denyut nadi (Atkinson
dkk., 1987). Music dapat menurunkan sekresi hormone kortisol, suatu hormone
yang berhubungan dengan peningkatan stress (Takashi, dkk., 2005). Selain itu,
music dapat meningkatkan kekebalan tubuh dengan meningkatkan sekresi
endorfindan kadar IgA dalam saliva (Campbell, 2002; Neimark, 2004). Sekresi
endorphin menimbulkan sensasi menyenangkan dan memberikan rasa nyaman (Atkinson
dkk., 1987).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar