Labioskizis dan
palatoskizis
1.
Definisi
a. Labioskizis
adalah kelainan congenital sumbing yang terjadi akibat kegagalan fusi atau penyatuan
prominen maksilaris dengan prominen nasalis medial yang diikuti disrupsi kedua
bibir, rahang dan palatum anterior.
b. Palatoskizis
adalah kelainan congenital sumbing akibat kegagalan fusi palatum pada garis
tengah dan kegagalan fusi dengan septum nasi.
2.
Etiologi
Umumnya kelainan kongenital ini berdiri sendiri dan
penyebabnya tidak diketahui secara jelas. Selain itu dikenal beberapa syndrome
atau malformasi yang disertai adanya sumbing bibir, sumbing palatum, atau
keduanya yang disebut kelompok syndrome cleft. Beberapa sindromik cleft adalah
sumbing yang terjadi pada kelainan kromosom (trisomit 13,18, atau 21) mutasi
genetic atau kejadian sumbing yang berhubungan dengan akibat toksikosis selam
kehamilan (kecanduan alkohol), terapi fenitoin, infeksi rubella, sumb9ing yang
ditemukan pada syndrome perrorobin, penyebab nonsindromik cleft dapat bersifat
multifaktorial seperti masalah genetic dan pengaruh lingkungan.
Faktor
resiko
Angka kejadian kelalaian congenital sekitar 1/700
kelahiran dan merupakan salah satu kelainan kongenital yang sering ditemukan,
kelainan ini berwujud sebagai labioskizis disertai palastokizis 50%,
labioskizis saja 25% atau palatoskizis saja 25%. Pada 20% dari kelompok ini
ditemukan adanya riwayat kelainan sumbing dalam keturunan. Kejadian ini mungkin
disebabkan adanya faktor toksik dan lingkungan yang mempengaruhi gen pada
periode fesi ke 2 belahan terebut, pengaruh toksik terhadap fusi yang telah
terjadi tidak akan memisahkan lagi belahan tersebut.
Resiko
kejadian sumbing pada keluarga
a. Non-syndromic
clefts
|
Resiko sumbing pada
anak berikutnya
|
Resiko labioskizis
dengan atau tanpa paltoskizis (%)
|
Resiko palatoskizis
|
|
1. Bila
diemukan satu anak menderita sumbing
|
|
|
|
2. Suami
istri dan dalam keturunan tidak ada yang sumbing
|
2-3
|
2
|
|
3. Dalam
keturunan ada yang sumbing
|
4-9
|
3-7
|
|
4. Bila
ditemukan dua anak yang menderita sumbing
|
14
|
13
|
|
5. Salah
satu orang tuanya menderita sumbing
|
12
|
13
|
|
6. Kedua
orang tuanya menderita sumbing
|
30
|
20
|
b. komplikasi
1. diperkirakan
sekitar 10% penderita palatoskizis akan menderita masalah bicara, misalnya
suara sengau.
2. Karena
palatoskizis dapat mengganggu pertumbuhan anatomi nasofaring dan sering
mengakibatkan pula terjadinya otitis media, conge serta gangguan pendengaran
maka kerjasama dengan pihak THT sangat berguna.
3. Penatalaksanaan
a. Tindakan
bedah efektif yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan
selanjutnya.
b. Ada
beberapa kemajuan dalam teknik bedah kosmetik secara kerjasama yang baik antara
ahli bedah, orthondotis, dokter anak, dokter THT, serta ahli wicara, maka hasil
akhir tindakan koreksi kosmetik dan fungsional menjadi lebih baik. Tergantung
dari berat ringannya kelainan yang ada maka tindakan bedah maupun tindakan
orthodontic dilakukan secara bertahap.
c. Penutupan
labioskizis biasanya dilakukan pada umur 3 bulan, sedangkan palatoskizis
biasanya ditutup pada umur 9-12 bulan menjelang anak mulai bicara.
d. Tahapan
tindakan orthodontic diperlukan pula untuk perbaikan gusi dan gigi.
e. Pendekatan
kepada orang tua sangat penting agar mereka mengetahui masalah tindakan yang
diperlukan untuk perawatan anaknya.
Contoh
: pemberian minum perlu diperhatikan karena bayi memiliki refleks menelan yang
baik, terhadap reflex menghisap yang terganggu akibat adanya palatoskizis.
Catatan :
1. Labioskizis
umumnya ditemukan di bibir kiri dan sering terjadi pada anak laki-laki daripada
anak perempuan.
2. Palatoskizis
lebih sering terjadi pada bayi perempuan karena fusi palatum pada fetus
perempuan lebih lambat beberapa minggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar