Cari Blog Ini

Selasa, 21 Januari 2014

Toxoplasmosis ( benarkah hanya dibawa oleh kucing? )



Toksoplasmosis merupakan suatu penyakit zoonosis, yaitu penyakit pada hewan yang ditularkan kepada manusia. Penyakit ini disebabkan oleh suatu parasit yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii, yang dapat menginfeksi hewan dan manusia
Toxoplasmosis adalah infeksi protozoa yang disebabkan oleh organisme Toxoplasma Gondii (Sellers, 1993). Toxoplasmosis adalah infeksi protozoa yang menyertai pengkonsumsian daging mentah atau cuci tangan yang tidak bersih setelah memegang kotoran yang terinfeksi (Jensen Margareth D., 1993).
Diperkirakan sepertiga penduduk dunia menderita toksoplasmosis, tetapi kebanyakan penderita tidak menunjukkan adanya suatu gejala klinis, karena adanya sistem kekebalan tubuh yang mempertahankan diri terhadap parasit tersebut. Namun toksoplasmosis dapat menjadi masalah yang berat jika terjadi pada bayi baru lahir dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah.
2.1.2  Etiologi dan Faktor Predisposisi
 
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi. Toksoplasma gondii adalah protozoa yang dapat ditemukan pada hampir semua  hewan dan unggas berdarah panas.  Akan tetapi kucing adalah inang primernya. Kotoran kucing dan makanan yang berasal dari hewan yang kurang masak, yang mengandung oocysts dari toksoplasma gondii dapat menjadi jalan penyebarannya. Contoh lainnya adalah pada saat berkebun ataupun saat membenahi tanaman di pekarangan, kemudian tangan yang masih belum dibersihkan melakukan kontak dengan mulut. Perlu diperhatikan, bahwa tanah di pekarangan merupakan media yang tidak bersih, dan tempat parasit toxoplasma dari kotoran kucing berkembang biak. Dengan kondisi seperti itu, maka siapapun akan tertular, baik perempuan maupun laki-laki, perempuan hamil ataupun tidak hamil semuanya memiliki peluang yang sama besar.
Selain itu juga dilaporkan bahwa penularan toxoplasma dapat terjadi jika mengkonsumsi susu kambing ataupun sapi yang terinfeksi parasit dan yang tidak dipasteurisasi. Penularan parasit bisa juga terjadi karena meminum air yang sudah tercemar toxoplasma atau meminum susu dari hewan yang sudah tertular. Meskipun sangat jarang, penularan bisa juga terjadi melalui transplantasi organ atau melalui transfusi darah.
Toxoplasmosis bukan penyakit yang berbahaya bila terdapat pada orang yang tidak hamil. Bahkan beberapa bulan sebelum hamil, tidak menunjukan keluhan apa-apa. Pada ibu hamil yang terinfeksi toksoplasma, Infeksi Intra uterine yang terjadi pada fetus berkisar dengan perbandingan 1:4.
2.1.3  Patofisiologi
Toksoplasma gondii mempunyai 3 fase dalam hidupnya. Tiga fase ini terbagi lagi menjadi 5 tingkat siklus : Fase proliferatif, stadium kista, fase schizogoni, gametogoni dan fase ookista. Siklus aseksual terdiri dari fase proliferasi dan stadium kista. Fase ini dapat terjadi dalam bermacam macam inang, sedangkan siklus seksual secara spesifik hanya terdapat pada kucing. Kucing menjadi terinfeksi setelah ia memakan mamalia, seperti tikus yang terinfeksi. Kista dalam tubuh kucing dapat terbentuk setelah terjadi beberapa siklus proliferasi dimana terbentuk tropozoit. Kista ini dapat terbentuk selama infeksi kronis yang berhubungan dengan imunitas tubuh. Kista terbentuk intrasel dan kemudian terdapat secara bebas di dalam jaringan sebagai stadium tidak aktif dan dapat menetap dalam jaringan tanpa menimbulkan reaksi inflamasi. Kista pada binatang yang terinfeksi menjadi infeksius, jika termakan oleh karnivora dan toksoplasma tersebut masuk melalui usus. Infeksi pada manusia dapat terjadi saat makan daging yang kurang matang, sayur-sayuran yang tidak dimasak, makanan yang terkontaminasi kotoran kucing melalui lalat atau serangga. Juga ada kemungkinan terinfeksi saat menghirup udara yang terdapat ookista yang beterbangan.
Cara penularan lain yang sangat penting adalah pada jalur maternofetal. Ibu yang mendapat infeksi akut saat kehamilannya dapat menularkannya pada janin melalui plasenta.
Imunitas maternal tampaknya memberikan perlindugan terhadap penularan transplasental parasit tersebut. Dengan demikian, toxoplasmosis kongenital dapat terjadi jika ibu mendapatkan infeksi tersebut selama kehamilannya.
2.1.4  Tanda dan Gejala serta Komplikasi
 a.      Pada ibu
Terkadang Toxoplasma dapat menimbulkan beberapa gejala seperti gejala influenza, timbul rasa lelah, malaise, dan demam. Akan tetapi umumnya tidak menimbulkan masalah yang berarti. Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesifik. Walaupun demikian, ada beberapa gejala yang mungkin ditemukan pada orang yang terinfeksi toksoplasma, gejala-gejala tersebut adalah:
- Pyrexia of unknow origin ( PUO),
- terlihat lemas dan kelelahan,  sakit kepala, rash, myalgia perasaan umum (tidak nyaman atau gelisah)
- Pembesaran kelanjar limfe pada serviks posterior.
- Nyeri pada otot-otot
- Infeksi menyebar ke saraf, otak, korteks dan juga dapat menyerang sel retina mata.
Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun).

b.      Pada janin dalam kandungan dan pada bayi setelah lahir
Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi pada janinnya adalah abortus spontan atau keguguran, lahir mati, atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan.
Pada awal kehamilan infeksi toksoplasma dapat menyebabkan aborsi dan biasanya terjadi secara berulang. Namun jika kandungan dapat dipertahankan, maka dapat mengakibatkan kondisi yang lebih buruk ketika lahir. Diantaranya adalah:
·         Lahir mati (still birth)
·         ikterus, dengan pembesaran hati dan limpa
·         Anemia
·         Perdarahan
·         Radang paru
·         Penglihatan dan pendengaran kurang.
·         Dan juga gejala yang dapat muncul kemudian, seperti kelainan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dan ensefalitis selain itu juga dapat merusak otak janin.

Resiko terburuk dari terjangkitnya infeksi ini pada janin adalah saat infeksi maternal akut terjadi di trimester ketiga (Jones et al., 2001).

2.1.5  Penatalaksanaan
Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG.
Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma. Pemeriksaan serum yang harus dilakukan adalah IgM dan IgG dan diulang dalam 3 minggu. Infeksi dini akan ditunjukkan oleh nilai IgM yang tinggi atau meningkat, sedangkan nilai IgG bervariasi dari negatif hingga positif. Upayakan tes ini dilakukan di laboratorium rujukan yang diakui keakuratannya. Para tenaga kesehatan yang berinteraksi langsung dengan wanita hamil harus memahami betul dua permasalahan potensial yang berkaitan dengan pemeriksaan serum toksoplasma. Pertama, tidak ada analisis kimia yang dapat menentukan dengan pasti kapan infeksi toksoplasma terjadi. Kedua, pada populasi dengan angka kejadian infeksi toksoplasma rendah, seperti di AS hasil tes IgM positif besar kemungkinan merupakan positif palsu.
Setiap wanita hamil yang dicurigai terinfeksi toksoplasma perlu segera dirujuk untuk menjalani pemeriksaan ultrasonografidan dan mendapat penatalaksanaan medis. Tujuan pemeriksaan ultrasonografi ialah mendeteksi anomali janin, hepatomegali, asites, atau kelainan intrakranial. Cairan amnion dan darah janin dapat digunakan sebagai sampel untuk memastikan infeksi pada janin.
Terapi pada sebagian besar orang dewasa tidak diperlukan, tetapi untuk wanita hamil mutlak diperlukan. Tujuannya adalah mengurangi dampak buruk penyakit pada janin. Obat-obatan yang biasa diberikan oleh dokter ialah sulfonamida, pirimetadine, dan spiramicin.
Obat-obatan yang dipakai sampai saat ini hanya membunuh bentuk trofozoit T.gondii dan tidak membasmi bentuk kistanya. Pirimetamin dan sulfonamid bekerja secara sinergistik. Walaupun secara klinis tidak ada perbaikan atau kesembuhan dengan pemberian dua macam obat ini, parasit dalam kista masih tetap ada, dan menyebabkan infeksi aktif kembali. Pengobatan pada toxoplasmosis akut yang tidak menujukkan gejala klinis tidak diperlukan, tetapi bila ada gejala klinis  atau retinokoroiditis akut atau bila ada defisiensi kekebalan pengobatan harus diberikan. Pirimetamin mempunyai efek teratogenik, sebaiknya tidak diberikan pada orang hamil. Spiramisin adalah antibiotik "macrolide" yang kurang toksik dibandingkan dengan pirimetamin dan sulfonamid. Obat ini tidak dapat melalui plasenta. Klindamisin adalah obat baru yang efektif, tetapi dapat menimbulkan efek samping seperti kolitis pseudomembranosa.
Sulfonamida19, Sulfonamida diklasifikasikan menjadi 5 kelompok berdasarkan waktu paruh dan absorbsinya sebagai berikut:
·         Sulfonamida dengan masa kerja pendek: Sulphaurea (tidak ada di Indonesia).
·         Sulfonamida dengan masa kerja medium: Sulphadiazine, sulphamethoxazole.
·         Sulfonamida dengan masa kerja panjang: Sulphamethoxydiazine (tidak ada di Indonesia).
·         Sulfonamida dengan masa kerja sangat panjang: Sulphadoxine.
·         Sulfonamida yang sulit diabsorbsi: Sulfaguanidine.
Mekanisme kerja: bakteriostatik dengan menghambat sintesa asam folat memblokade enzim yang membentuk asam folat dari PABA (para-aminobenzoic acid). Sebagian menginaktivasi enzim-enzim lain bakteri, seperti dehydrogenase atau carboxylase yang berperanan pada respirasi bakteri. Karena beberapa bakteri mempunyai cara tertentu untuk menyuplai asam folat, biasanya mula kerja dari sulfonamida akan selalu lambat. Golongan sulfonamida adalah obat antiparasit yang sangat lemah, tetapi mempunyai efek antiparasit sinergistik yang cukup baik dengan pyrimethamine.
Efek samping yang paling sering adalah reaksi alergi, kerusakan ginjal karena deposit dari kristal sulfonamida yang sukar larut dalam air, gangguan gastrointestinal, risiko hiperbilirubinaemia pada kelahiran prematur, abnormalitas jumlah darah, sianosis, dan cholestatic jaundice (jarang).
Pyrimethamine merupakan antiparasit yang secara kimiawi dan farmakologi menyerupai trimetropim. Mekanisme kerja: pyrimethamine mengganggu metabolisme parasit seperti sulfonamida. Untuk terapi infeksi toksoplasma, dosis oral untuk dewasa secara umum 50--75 mg per oral satu kali sehari, dikombinasi dengan 1--4 gram sulfonamide per hari, selama 1 hingga 3 minggu. Kemudian kurangi dosis setiap obat setengah dosis dari yang sebelumnya dan terapi dilanjutkan selama 4 hingga 5 minggu. Efek samping yang paling sering adalah kerusakan sel-sel darah, khususnya jika diberikan dalam dosis tinggi. Kekurangan asam folat akan memicu agranulocytosis. Urtikaria dapat timbul selama terapi dengan pyrimethamine dan dapat menjadi tanda awal dari efek samping yang lebih serius yaitu Sindroma Stevens-Johnson. Pyrimethamine harus digunakan sangat hati-hati pada kehamilan (katagori kehamilan tipe C). Pada hewan percobaan, dijumpai adanya efek teratogenik dan mutagenik. Pyrimethamine dapat menurunkan derajat fertilitas.
Spiramycin (RovamycineR) merupakan antibiotika makrolida yang paling aktif terhadap toksoplasmosis di antara antibiotika lainnya yang mempunyai mekanisme kerja yang serupa, seperti Clindamycin, Midecamycin, dan Josamycin21. Mekanisme kerja Spiramycin menghambat pergerakan mRNA pada bakteri/parasit dengan cara memblokade 50 Ribosom. Dengan begitu, sintesa protein bakteri/parasit akan terhenti dan kemudian mati. Spiramycin merupakan antibiotika yang paling banyak digunakan untuk menangani kasus toksoplasmosis di Eropa karena:
·      Aktivitas intraselularnya yang sangat tinggi.
·      Konsentrasi di plasenta yang sangat tinggi (6.2 mg/L), sehingga dapat mencegah infeksi maternal infiltrasi ke janin.
·      Aman bagi fetus. Spiramycin sedikit sekali kadarnya yang dapat masuk ke janin. Oleh sebab itu, pada janin yang sudah terinfeksi toksoplasma, efek terapi Spiramycin tidak akan maksimal. Spiramycin tidak dapat mencegah kerusakan yang sudah terjadi pada janin sebelum terapi Spiramycin dimulai.
·      Ditoleransi dengan baik oleh ibu hamil.
·      Studi-studi pendukung yang sangat banyak sebagai evidence based medicine22.
Dosis Spiramycin untuk profilaksis toksoplasmosis kongenital 3 kali sehari 3 juta Internasional Unit (3 MIU) selama 3 minggu, kemudian diulang setelah interval 2 minggu hingga saat partus. Pengobatan harus terus dilakukan sepanjang kehamilan untuk mencegah terjadinya infeksi primer Toxoplasma gondii pada kongenital 23,24,25,26
Jika antibodi, yang biasanya ditentukan oleh flouresensi langsung pada pemeriksaan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) terdapat dengan titer rendah, maka keadaan ini mungkin menggambarkan imunitas yang didapat sebelumnya. Tetapi, unsur kekebalan tersebut dapat berupa IgM dari infeksi yang baru saja terjadi, meskipun IgM bisa bertahan selama bertahun-tahun dan hasil positif palsu dapat disebabkan oleh faktor rematoid (Fucillo dkk, 1987). Sayangnya, pembedaan antara dua keadaan tersebut sulit ditentukan dan dianjurkan dirujuk kepada laboratorium nasional, pusat pengendalian penyakit atau lembaga kesehatan nasional.
Konfirmasi adanya infeksi aktif yang paling akurat dapat diperoleh dari kenaikan titer IgG pada dua sampel serum yang dipisahkan jarak pengambilannya secara tepat tetapi diuji sekaligus. Titer yang sangat tinggi, yaitu lebih besar 1:512 lebih besar kemungkinannya untuk menunjukkan penyakit yang baru saja terjadi server dkk, (1988) melaporkan peningkatan frekuensi mikrosefalus, ketulian dan retardasi mental pada wanita yang titernya sebesar 1:256 atau lebih tinggi lagi.
Bagi wanita yang diperkirakan menderita penyakit yang aktif, pengobatan dianjurkan oleh Remington dan Desmonts (1983). Menurut penelitian, bahwa spiramisin yang banyak digunakan di Eropa dapat menurunkan insiden infeksi fetal. Namun hasil tersebut tidak dapat mengubah intensitas infeksinya. Desmonts (1985) menggunakan sample cairan amnion dan darah janin pada 183 orang wanita dengan infeksi trimester pertama yang sudah terbukti. Kepada wanita-wanita ini diberikan preparat spiramisin 3 gram per hari setelah diagnosis serologis dibuat, dan kemudian sampel janin diambil pada usia gestasional 20 hingga 24 minggu. hanya 4 % dari janin tersebut yang mungkin terinfeksi, sehingga menunjukan bahwa spiramisin merupakan preparat yang efektif.
Selanjutnya, Daffos (1988) melaporkan pengalaman dari kelompok prancis dengan 746 kasus kehamilan, dimana infeksi maternal didiagnosis lewat antibodi IgM yang spesifik untuk toxoplasma. Semua wanita dengan diperkirakan terinfeksi diobati dengan spiramisin. Hanya 6 % dari janin mereka ditemukan dengan infeksi tersebut, dan 39 dari 42 kasus ini didiagnosis dengan terlihatnya antibodi spesifik IgM dalam serum yang diperoleh melalui sample darah tali pusat. Untuk pasien-pasien wanita ini, ditambahkan preparat pirimetamin dan salah satu dari sulfadoksin atau sulfadiazin pada pengobatan dengan spiramisin. Di Amerika Serikat, spiramisin kini sudah tidak tersedia dan pengobatan diberikan dengan pirimetamin plus sulfadiazin. Meskipun demikian, kemanjuran pengobatan tersebut belum pernah ditentukan.
Apabila ada kecurigaan, maka sebaiknya dilakukan tes torch sebelum usia 10 minggu kehamilan. Jika hasilnya negatif, maka tes ulang harus dilakukan pada usia kehamilan 20 minggu, dan terakhir pada trimester 3 kehamilan. Efek dari toksoplasma terhadap kehamilan adalah Orang yang tertular toxoplasma tidak selalu perlu mendapat pengobatan. Pengobatan terutama hanya pada penderita yang sedang hamil, apalagi bila memang menderita gangguan sistem kekebalan. Bila dokter mencurigai seorang perempuan hamil menderita toxoplasmosis melalui pemeriksaan serologi, dokter akan memberi antibiotik untuk mencegah bayi dalam kandungan tertular parasit toxoplasma. Berikut adalah standar baku yang biasa dilakukan di Eropa: Skrining awal untuk diagnosis infeksi maternal umumnya dilakukan tes serologi menggunakan spesimen darah untuk melihat keberadaan IgG dan IgM spesifik terhadap toksoplasma. Jika IgM spesifik terhadap toksoplasma terdeteksi dan/atau pada kajian berikutnya dijumpai IgG spesifik terhadap toksoplasma (hasil positif titer ≥ 6 IU/ml), spesimen dianalisa dengan tes tambahan yang lebih spesifik. Direct agglutination assay for IgG (Toxo-Screen DA IgG [hasil dianggap positif bila titer ≥ 40]), Immunosorbent agglutination assay for IgM (Toxo-ISAGA IgM, hasil dianggap positif bila indeks ≥ 9)
Pemeriksaan Serologi :
·         Sabin-Feldman (Dye Test)
·         IFA (Indirect Flouroscence Antibody)
·         CF (Complement Fixation)
·         IHA (Indirect Haemaglutination Antibody)
·         ELISA/DS-IgM-ELISA (Double-Sandwich-IgM-ELISA)
·         IgA, IgM,IgG

Hasil pemeriksaan IgG & IgM ibu hamil :
1.     IgM -/ igG – : tidak terinfeksi. Perlu kontrol tes tiap bulan
2.     IgM +/ IgG – : Mungkinterinfeksi dini. tes 3 minggu kemudian, dan bila :
IgM +/ IgG + : Pasti terinfeksi primer dini
3.     IgM -/ IgG + : Mungkin infeksi lanjut, Tes 3 minggu kemudian, dan bila :
o    IgM – / IgG + tetap : Infeksi sebelum kehamilan. Tak perlu terapi.
o    IgM – / IgG meningkat : reaktivitasi
4.     IgM + / IgG + : Mungkin terinfeksi dini. Tes 3 minggu kemudian, bila :
o    IgG tetap : Infeksi sebelum hamil
o    IgG naik bermakna : Infeksi primer akut setelah konsepsi
Juga akan dilakukan pemeriksaan amniosintesis untuk lebih memastikan apakah bayi dalam kandungan sudah tertular parasit. Bila ada fasilitas laboratorium yang lebih canggih dilakukan pemeriksaan DNA untuk memastikan apakah janin sudah tertular. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui kelainan yang mungkin sudah terjadi pada janin di dalam kandungan.
Bila ternyata sudah pasti janin tertular toxoplasma, tergantung pada umur kehamilan, apakah perlu dilakukan terminasi atau tidak, tentu dokter akan mendiskusikannya. Atau dokter akan memberikan pengobatan antibiotik untuk mengurangi risiko kelainan pada janin yang dikandung. Selain itu semua, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pencegahan terhadap toksoplasma ini, dengan hal-hal berikut:
·         Menggunakan sarung tangan kalau mengurus tanaman di pekarangan atau mengolah tanah. Karena kucing mencari tempat buang air besar di pekarangan atau gundukan pasir atau tempat bak sampah.
·         Mencuci tangan yang bersih setelah selesai mengolah tanaman dan tanah di pekarangan.
·         Bila mengelola daging mentah, bersihkan dengan baik papan tempat pengolahan, pisau, dan alat-alat lain yang kontak dengan daging. Cuci tangan dengan air dan sabun selesai mengolah daging mentah.
·         Masaklah daging dengan sempurna, jangan mencicipi daging yang belum matang sempurna. Dengan mengikuti anjuran pencegahan ini, terbukti sudah cukup untuk mencegah penularan parasit toxoplasma.
 Terapi Adjufan yang disarankan klik: niwana SOD
                                                       antioksidan terbaik saat ini
                                                       Super Green Food
                                               

yu follow juga @ranhae



Tidak ada komentar:

Posting Komentar