RUBELLA
Definisi
Rubella atau orang sering menyebutnya campak Jerman disebabkan oleh virus Rubella, bersifat ringan atau akan hilang dengan sendirinya. Anak-anak merupakan kelompok yang rentan terhadap virus ini. Namun, penyakit ini akan menjadi serius bila diderita oleh ibu hamil karena dapat berakibat buruk bagi janin yang dikandungnya (Encyclopedia of diseases and the solution, 2012).
Rubella merupakan
penyakit kulit yang bisa menyebabkan lesi makulopapular. Apabila virus rubella terjadi pada
perempuan hamil, bisa terjadi keguguran atau janin meninggal di dalam
kandungan, paling tidak bayi lahir dengan cacat kongenital.
Rubella
dikenal juga dengan cacar jerman atau cacar 3 hari, merupakan infeksi virus
yang dijangkitkan oleh droplet (misalnya, droplet dari bersin orang yang
terinfeksi). Demam, ruam dan lymphedemia ringan biasanya terlihat pada ibu yang
terinfeksi. Konsekuensi pada janin lebih serius dan mencakup keguguran, anomali
bawaan (mengacu pada sindrom rubella bawaan) dan kematian. Vaksinasi wanita
hamil bersifat kontraindikasi karena infeksi rubella dapat berkembang setelah
vaksinasi dilakukan sebagai bagian dari konsultasi prekonsepsional, vaksin
rubella diberikan kepada wanita yang tidak kebal terhadap rubella dan mereka
dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi selama paling tidak 3 bulan setelah
vaksinasi.
Etiologi dan Faktor
Predisposisi
Virus
ini pertamakali ditemukan di amerika pada tahun 1966, Rubella pernah menjadi
endemic di banyak Negara di dunia, virus ini menyebar melalui droplet. Periode
inkubasinya adalah sekitar 14- 21 hari.
Patofisiologi
Virus
rubella, akan merangsang tubuh untuk menghasilkan IgM dan IgG. Setelah minggu
ke 14 kehamilan, akan ditemukan IgM dan IgG dalam tubuh janin. Virus akan
merusak sel janin dan menghambat serta mengganggu proses organogenesis. Akibat yang
di timbulkan akan berbeda pada setiap usia kehamilan. Berikut adalah jabarannya:
|
NO
|
Usia
kehamilan
|
Kelainan
|
|
1
|
2
minggu hingga 1 bulan
|
50%
terjadi aborsi
|
|
2
|
4
sampai 6 minggu
|
Kerusakan
pada lensa mata
|
|
3
|
5
sampai 10 minggu
|
Katarak
|
|
4
|
4
sampai 9 minggu
|
Kelainan
pada jantung
|
|
5
|
8
sampai 12 minggu
|
Deafness
|
Tanda
dan Gejala serta Komplikasi
Rubella menyebabkan sakit yang
ringan dan tidak spesifik pada orang dewasa, ditandai dengan cacar-seperti
ruam, demam, dan infeksi saluran pernapasan atas. Sebagian besar negara saat
ini memiliki program vaksin rubella untuk bayi dan wanita usia subur dan hal
ini merupakan bagian dari screening prakonsepsi. Ibu hamil secara rutin
diperiksa untuk antibody rubella dan jika tidak memiliki kekebalan akan segera
diberikan vaksin rubella pada periode postnatal. Fakta-fakta terkini
menganjurkan bahwa kehamilan yang disertai dengan pemberian vaksin rubella
tidak seberbahaya yang dipikirkan.
Infeksi
terberat terjadi pada trimester pertama dengan lebih dari 85% bayi ikut
terinfeksi.
Bayi
mengalami viraemia, yang menghambat pembelahan sel dan menyebabkan kerusakan
perkembangan organ. Janin terinfeksi dalam 8 minggu pertama kehamilan. Oleh
karena itu memiliki resiko yang sangat tinggi untuk mengalami multiple defek
yang mempengaruhi mata, system kardiovaskuler, telinga, dan system saraf.
Aborsi spontan mungkin saja terjadi. Ketulian neurosensori seringkali disebabkan
oleh infeksi setelah gestasi 14 minggu dan beresiko kerusakan janin sampai usia
24 minggu. Pada saat lahir, restriksi pertumbuhan intrauterine biasanya
disertai hepatitis, trombositopenia, dan penyakit nerologis seperti mikrosefali
atau hidrosefali.
Bayi-bayi
ini sangat infeksius dan bisa mengeluarkan virus rubella dari urinenya sampai
12 bulan. Mereka beresiko infeksi silang pada neonatus yang lain sebagaimana
ibu hamil. Pengisolasian diperlukan di rumah sakit dan harus dilakukan
perawatan intensif di rumah.
Kerusakan
yang paling sering terjadi pada
janin akibat virus rubella biasanya berhubungan dengan 3 organ, mata, jantung ,
dan telinga. Akan tetapi masih ada cakupan lain dari akibat yang timbul karena
terinfeksi rubella, diantaranya:
1. Sistem saraf pusat : retardasi
mantal dan mikrosefalus.
2. System kardiovaskuler:
Myocarditis, necrosis jaringan.
3. Hati: Hepatitis dan jaundice.
4. Darah: throbositopenia, Anemi, dan
bone marrow damage
5. Sistem pencernaan : stenosis pylorik.
6. Ginjal: nefritis,stenosis arteri
renalis.
7. Tulang: osteoporosis.
8. Paru-paru : phenemonitis
9. Mata: kerusakan retina, gloukouma,
dan cludy conea.
10. Umum: IUGR (itra uterine growth
retadation)
Sindrom
Rubella Kongenital
Pada
rubella seperti halnya pada infeksi virus yang lain, konsep tentang bayi yang terinfeksi versus
bayi yang terjangkit harus dipahami. Rubella merupakan teratogen yang patogen
yang poten, dan 80 % dari ibu yang mendapatkan infeksi rubella serta ruam dalam
usia kehamilan 12 minggu akan mempunyai janin dengan infeksi kongenital (Miller
dkk, 1982). Pada kehamilan minggu ke-13 hingga ke-14 insiden ini besarnya 54 %,
dan pada akhir trimester dua 25 %. Dengan semakin tinggi usia kehamilan,
semakin kecil kemungkinan bagi infeksi tersebut untuk menyebabkan malformasi
kongenital. Sebagai contoh, cacat rubella terlihat pada semua bayi yang
terbukti menderita infeksi intrauterin sebelum usia gestasional 11 minggu,
namun hanya 35 % bayi yang terinfeksi pada usia gestasional 13 hingga 16
minggu. Meskipun tidak terlihat cacat pada 63 anak yang terinfeksi setelah usia
gestasional 16 minggu, namun anak-anak tersebut hanya diikuti perkembangan
selama 2 tahun, dan extended rubella syndrome dengan panensefalitis progresif
dan diabetes tipe 1 mungkin baru terlihat secara klinis setelah usia 20 atau 30
tahun. Kemungkinan sepertiga dari bayi yang asimptomatik pada saat lahir akan
memperlihatkan cedera pertumbuhan tersebut (American College of Obstetricians
and Gynecologist, 1988).
Bayi-bayi
yang ibunya mendapatkan penyakit tersebut setelah trimester pertama, tidak
selalu berada dalam keadaan sehat, seperti diperlihatkan oleh Herdy dkk.
(1969). Penelitian epidemiologi prospektif jangka panjang yang mereka lakukan
untuk memeriksa dampak epidemi rubella yang luas pada tahun 1964 di Amerika
mengungkapkan, 24 kasus dengan bukti serologis adanya infeksi rubella setelah
trimester pertama. Dari 22 bayi yang lahir hidup, hanya 7 yang dianggap
benar-benar normal setelah diikuti perkembangannya selama periode waktu sampai
4 tahun.
Sindrom
rubella kongenital mencakup satu atau lebih abnormalitas berikut:
1.
Kelainan
mata, termasuk katarak, glaukoma, mikroftalmia, dan berbagai abnormalitas
lainnya.
2.
Penyakit
jantung, termasuk patent ductus arteriosus defek septum jantung dan stenosis
arteri pulmonalis.
3.
Cacat
pendengaran.
4.
Cacat
sistem syaraf pusat termasuk meningoensefalitis.
5.
Retardasi
pertumbuhan janin.
6.
Trombositopenia
dan amenia.
7.
Hepatosplenomegali
dan ikterus.
8.
Pneumonitis
interstisialis difusa kronis.
9.
Perubahan
tulang.
10.
Abnormalitas
kromosom.
Bayi-bayi
yang dilahirkan dengan rubella kongenital dapat menyebarkan virus selama
berbulan-bulan dan dengan demikian merupakan ancaman bagi bayi lainnya,
disamping bagi orang dewasa yang rentan dan berhubungan dengan bayi tersebut.
Penatalaksanaan
Diagnosis
rubella kadang kala sulit ditegakkan. Bahkan hanya gambaran klinisnya yang
serupa dengan penyakit lain, namun juga kasus-kasus subklinis dengan viremia
dan infeksi pada embrio serta janin tidak terdapat. Tidak adanya antibodi
terhadap rubella menunjukan defisiensi imunitas. Adanya antibodi menandakan
adanya respon imun terhadap viremia rubella, yang mungkin sudah diperoleh di
suatu tempat sejak beberapa minggu atau bertahun-tahun sebelumnya. Jika
antibodi rubella maternal terlihat pada saat terpapar rubella atau sebelumnya,
maka kekhawatiran ibu bisa dikurangi karena kemungkinan janin terkena infeksi
tersebut sangat kecil.
Orang
yang tidak kebal dan mendapat viremia rubella akan memperlihatkan titer
antibodi yang puncaknya terjadi 1 hingga 2 minggu sesudah dimulainya gejala
ruam, atau 2 hingga 3 minggu sesudah onset viremia, mengingat viremia secara
klinis terlihat terlebih dahulu sebagai penyakit yang nyata sekitar 1 minggu
sebelumnya. Karena itu kecepatan respon antibodi dapat mempersulit serodiagnosis,
kecuali jika serum telah diambil terlebih dahulu dalam waktu beberapa hari
sesudah dimulainya gejala ruam. Jika misalnya, spesimen pertama diambil 10 hari
sesudah ruam, maka deteksi antibodi tidak akan berhasil membedakan diantara
kedua kemungkinan ini:
1.
Bahwa
penyakit yang baru saja terjadi benar-benar rubella.
2.
Bahwa
penyakit tersebut bukan rubella, namun orang tersebut sudah kebal terhadap rubella.
Terlihatnya
IgM yang spesifik pada ibu hamil menunjukkan suatu infeksi primer dalam
beberapa bulan. Preparat kemoterapeutik atau antibodi yang akan mencegah
viremia pada orang-orang yang tidak kebal dan terpapar rubella, tidak terdapat.
Penggunaan gamma globulin untuk ini
tidak dianjurkan.
Tanda
tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan
pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak.
Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan dengan
bantuan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi
pemeriksaan Anti-Rubella IgG dan IgM.
Pemeriksaan
Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat
sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk
divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk
diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella
bawaan.
jika telah didapatkan hasil pemeriksaan positif;
Hendaknya melakukan upaya peningkatan daya tahan tubuh seperti makan makanan yang kaya akan zat gizi, cukup istirahat dan banyak minum.
Hendaknya melakukan upaya peningkatan daya tahan tubuh seperti makan makanan yang kaya akan zat gizi, cukup istirahat dan banyak minum.
Terapi yang Disarankan:
- anti rubella (hubungi dokter spesialis)
- Niwana SOD 2 x 1 sachet {1 jam sebelum makan}
(untuk meningkatkan daya tahan tubuh)
- Super Green Food 2 x 10 tablet {2 jam setelah makan}
(memenuhi kebutuhan vitamin & mineral tubuh, regenerasi dan pemulihan sel)
- pureway-C 2 x 1000mg {setelah makan}
(sebagai anti oksidan berat molekul rendah)
Pemeriksaan
1.
Single
radial haemolysis (SHR) test.
2.
Pemeriksaan
serologi.
3.
Pengambilan
culture dari pharynx, dan urine. Jika hasilnya positif itu artinya telah
terdapat lebih 15.000 IU/liter atau dengan rasio 1:10, dan artinya pasien
tersebut telah memiliki imunitas
dan atau telah mendapatkan vaksinasi. Jika ketika hamil dilakukan tes ini, dan
hasil test kurang dari 1:8, maka wanita tersebut harus mendapatkan vaksin
rubella setelah melahirkan.
Prenatal
Seorang
wanita hamil yang terinfeksi rubella, memiliki resiko yang kecil. Akan tetapi,
tergantung pada usia gestasi pada saat terinfeksi, kemungkinan janin beresiko
sangat besar untuk mengalami kelainan congenital. Metoda untuk diagnosis dalam
rahim meliputi pemeriksaan sample darah janin untuk rubella-spesifik IgM,
membalikkan reaksi rantai transkripsi polymerase rubella secara spesifik
(RT-PCR), dan isolasi virus dari cairan amnion atau hasil konsepsi. RT-PCR
dapat mendeteksi kehadiran viral RNA, walaupun IgM spesifik virus rubella janin
yang dihasilkan oleh sampel darah janin negatif. Walaupun tes-tes ini bisa
menunjukkan adanya infeksi janin, konseling biasanya berdasarkan pada usia
gestasi sehubungan dengan resiko kelainan congenital. Tidak ada pengobatan lain
selain terminasi kehamilan jika memungkinkan.
Perawatan
untuk infeksi maternal akut yang umumnya memiliki gejala. Jarang, pasien yang
menderita trombositopenia atau ensefalitis selamat dari glukokortikoid atau
transfuse platelet. Tidak ada data yang menunjukkan bahwa immunoglobulin
mencegah kelainan janin.
yu follow juga @ranhae
Tidak ada komentar:
Posting Komentar