Cari Blog Ini

Minggu, 19 Januari 2014

BUAH HATI ANDA TIDAK BAB?? WASPADA OBSTIPASI !!



Obstipasi 

Definisi (Pengertian)
 Obstipasi adalah penimbunan feses yang keras akibat adanya penyakit atau adanya obstruksi pada saluran cerna.  Bisa juga didefinisikan sebagai tidak adanya pengeluaran feses selama 3 hari atau lebih.
Lebih dari 90% bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium dalam 24 jam pertama, sedangkan sisanya akan mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama kelahiran.  Jika hal ini tidak terjadi, maka harus dipikirkan adanya obstipasi.  Akan tetapi harus diingat bahwa ketidakteraturan defekasi bukanlah suatu obstipasi karena pada bayi yang menyusu dapat terjadi keadaan tanpa defekasi selama 5-7 hari dan tidak menunjukkan adanya gangguan karena feses akan dikeluarkan dalam jumlah yang banyak sewaktu defekasi.  Hal ini masih dikatakan normal.  Dengan bertambahnya usia dan variasi dalam dietnya akan menyebabkan defekasi menjadi lebih jarang dan fesesnya lebih keras.

Etiologi (Penyebab)
 Obstipasi pada anak dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:
1.      Kebiasaan makan
Obstipasi dapat timbul bila feses terlalu kecil untuk membangkitkan keinginan untuk buang air besar.  Keadaan ini terjadi akibat dari kelaparan, dehidrasi, dan mengonsumsi makanan yang kurang selulosa.
2.      Hipotiroidisme
Obstipasi merupakan gejala dari dua keadaan, yaitu kreatinisme dan myodem yang menyebabkan tidak cukupnya eksresi hormon tiroid sehingga semua proses metabolisme berkurang.
3.      Keadaan-keadaan mental
Faktor kejiwaan memegang peranan penting terhadap terjadinya obstipasi, terutama depresi berat yang tidak memedulikan keinginannya untuk buang air besar.  Biasanya terjadi pada anak usia 1-2 tahun.  Jika pada anak usia 1-2 tahun pernah mengalami buang air besar yang keras dan terasa nyeri, maka mereka cenderung tidak mau buang air besar untuk beberapa hari, bahkan beberapa minggu sampai beberapa bulan sesudahnya karena takut kembali mengalami nyeri.  Dengan tertahannya feses dalam beberapa hari/ minggu/ bulan, maka akan mengakibatkan kotoran menjadi keras dan lebih terasa nyeri, sehingga anak menjadi semakin malas buang air besar.  Kondisi anak dengan keterbelakangan mental juga merupakan penyebab terjadinya obstipasi karena anak sulit dilatih untuk buang air besar. 
 4.      Penyakit organik
Obstipasi bisa terjadi berganti-ganti dengan diare pada kasus karsinoma kolon dan divertikulus.  Obstipasi bisa terjadi bila terasa nyeri saat buang air besar dan sengaja dihindari seperti pada fistula ani atau wasir yang mengalami thrombosis.
5.      Kelainan congenital
Adanya penyakit seperti atresia, stenosis, megakolon aganglionik kongenital (penyakit hirschsprung), obtruksi bolus usus ileus mekonium, atau sumbatan mekonium.  Hal ini dicurigai terjadi pada neonatus yang tidak mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama.
    6.      Penyebab lain
Penyebab lainnya adalah diet yang salah, tidak mengonsumsi makanan yang mengandung serat selulosa sehingga bisa mendorong terjadinya peristaltik, atau pada anak setelah sakit atau sedang sakit, ketika anak masih kekurangan cairan.

Tanda dan Gejala
1.      Pada neonatus jika tidak mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama, pada bayi jika tidak mengeluarkan feses selama 3 hari atau lebih.
2.      Sakit dan kejang pada perut
3.      Pada pemeriksaan rectal, jari akan merasa jepitan udara dan mekonium yang menyemprot
4.      Feses besar dan tidak dapat digerakkan dalam rectum
5.      Bising usus yang janggal
6.      Merasa tidak enak badan, anoreksia, dan sakit kepala
7.      Terdapat luka pada anus

 Patofisiologi
Pada keadaan normal, sebagian besar rektum dalam keadaan kosong kecuali bila adanya refleks masa dari kolon yang mendorong feses ke dalam rektum yang terjadi sekali atau dua kali sehari.  Hal tersebut memberikan stimulus pada arkus aferen dari refleks defekasi.  Dengan adanya stimulus pada arkus aferen tersebut akan menyebabkan kontraksi otot dinding abdomen sehingga terjadilah defekasi.  Mekanisme usu yang normal terdiri atas 3 faktor, yaitu sebagai berikut:
1.      Asupan cairan yang adekuat
2.      Kegiatan fisik dan mental
3.      Jumlah asupan makanan berserat
Dalam keadaan normal, ketika bahan makanan yang akan dicerna memasuki kolon, air dan elektrolit diabsorbsi melewati membran penyerapan.  Penyerapan tersebut berakibat pada perubahan bentuk feses, dari bentuk cair menjadi bahan yang lunak dan berbentuk.  Ketika feses melewati rektum, feses menekan dinding rektum dan merangsang untuk defekasi.  Apabila anak tidak mengonsumsi cairan secara adekuat, produk dari pencernaan lebih kering dan padat, serta tidak dapat dengan segera digerakkan oleh gerakan peristaltik menuju rektum, sehingga penyerapan terjadi terus-menerus dan feses menjadi semakin kering, padat dan susah dikeluarkan, serta menimbulkan rasa sakit.  Rasa sakit ini dapat menyebabkan kemungkina berkembangnya luka.  Proses dapat terjadi bila anak kurang beraktivitas, menurunnya peristaltik usus, dan lain-lain.  Hal tersebut menyebabkan sisa metabolisme berjalan lambat yang kemungkinan akan terjadi penyerapan air yang berlebihan.
Bahan makanan berserat sangat dibutuhkan untuk merangsang peristaltik usus dan pergerakan normal dari metabolisme dalam saluran pencernaan menuju ke saluran yang lebih besar.  Sumbatan pada usus dapat juga menyebabkan  obstipasi.

Pembagian
1.      Obstipasi akut, yaitu rektum tetap mempertahankan tonusnya dan defekasi timbul secara mudah dengan stimulasi laksatif, supositoria, atau enema.
2.       Obsipasi kronik, yaitu rektum tidak kosong dan dindingnya mengalami peregangan berlebihan secara kronik, sehingga tambahan feses yang datang mencapai tempat ini tidak menyebabkan rektum meregang lebih lanjut. Reseptor sensorik tidak memberikan respons pada dinding rektum lebih lanjut, flaksid dan tidak mampu untuk berkontraksi secara efektif.

Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi pada penderita obstipasi adalah sebagai berikut:
1.      Perdarahan
2.      Ulserasi
3.      Obstruksi
4.      Diare intermitten
5.      Distensi kolon akan menghilang jika ada sensasi regangan rektum yang mengawali proses defekasi.

Manajemen Terapi
Berikut adalah penilaian yang perlu dilakukan pada saat melakukan manajemen kebidanan:
1.      Penilaian asupan makanan dan cairan
2.      Penilaian dari kebiasaan usus (kebiasaan pola makan)
3.  Penilaian penampakan stress emosional pada anak yang dapat memengaruhi pola defekasi bayi.

Penatalaksanaan
1.     Mencari penyebab obstipasi
2. Menegakkan kembali kebiasaan defekasi yang normal dengan mempertahankan gizi, tambahan cairan, dan kondisi psikis
3.      Pengosongan rektum dilakukan jika tidak ada kemajuan setelah dianjurkan untuk menegakkan kembali kebiasaan defekasi.  Pengosongan rektum bisa dilakukan dengan disimpaksi digital, enema minyak zaitun, dan laksatif.

SEMOGA BERMANFAAT

bagi sahabat yang dede bayinya pernah mengalami obstipasi boleh dong dishare untuk sahabat lainnya di sini..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar